Kami sama-sama tertawa puas. Puting susunya pun tak ketinggalan kujamah. Bokep Ih, benar! Seperti Suster Vika, Suster Mimi juga mulai menaik-turunkan pantatnya dan membuat kemaluanku sempat mencelat keluar dari dalam liang kemaluannya namun langsung dimasukkannya lagi.Tak tahan menganggur, mulut Suster Vika mulai merambah payudara rekan kerjanya. Ketika tangan Suster Vika mulai turun ke perutku, aku merasakan gerakan di selangkanganku. Lalu aku berbaring di tempat tidur. Di samping mata sudah mengantuk, juga kami berdua ditegur oleh seorang suster dan dinasehati supaya istirahat. Ini sedikit menghilangkan kedongkolanku itu.Tahu-tahu, ditariknya handuk yang menutupi selangkanganku, membuat batang kemaluanku yang sudah tinggi menjulang itu terpampang dengan bebasnya tanpa ditutupi oleh selembar benang pun. Ketika aku periksa darah di laboratorium klinik di rumah sakit tersebut, ternyata hasilnya trombosit-ku turun jauh menjadi hampir separuh trombosit yang normal. Kedua-duanya menjadi pemandangan sedap yang tentu saja menjadi pelepas kerinduanku. Aku menjadi bertambah salah tingkah, sampai Suster Vika kembali akan menyabuni tubuhku




















