Pukul enam, Bagas sudah menungguku di depan stand seorang diri. Bokep Tak lama kemudian dia kembali lagi sambil membawa 2 kantong kertas yang berisi makanan. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih dan memberikan sebuah ciuman di pipinya sebagai ucapan selamat malam.Keesokan harinya kami bertemu kembali di tempat parkir dan langsung saling bertegur sapa.Hanya saat ini Bagas berani mengusap rambutku dan bertanya apakah aku bisa tidur semalam.Hal seperti ini yang sudah lama kurindukan, satu sisi hatiku mengingatkanku kepada papa tiriku sedangkan satu sisi hati yang lain menginginkan sesuatu yang lebih dari dia.Mungkin dari segi umur, aku sadar bahwa aku lebih menyukai pria yang matang dan berumur. Dalam hatiku aku sadar bahwa aku menginginkan dirinya. Hal ini sangat menyenangkan sekali. Aku sempat kembali di hotel untuk mandi dan sedikit berdandan.Sekitar jam delapan malam, pintu kamarku diketuk dengan pelan. Seorang yang berdasi biru berkata ke temannya, “Wah yang ini pasti blasteran”.




















