Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Alamak.., jauhnya. Xnxx “ Halo..? “ Mau dipijat atau mau baca, ” ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku,
“ Ayo tengkurap..!!! Dan kubuka celana pantai. Kaki disandarkan di dinding. Darahku mendesir. ”
Aku disodorkan celana pantai tapi lebih pendek lagi. “ Siapa Mbak..? Lalu Kewanitaannya, basah sekali. Bayar arisan. Aku mengurungkan niatku. Dari jarak yang dekat ini hawa panas badannya terasa. Bau badannya tercium. Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. ” katanya sedekit terengah. Apakah perlu menhitung kancing. ”
Dia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya. Kring..! Kesempatan tidak akan datang dua kali. Wanita muda itu mengikuti di belakang. Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan. Badannya berbalik lalu melangkah. Jam berapa harus sampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yang penuh gelora itu.




















