” komentarku. “San, Kau baca apa sich? Bokep Montok Tanganku makin aktif menjelajahi bukit yang king size itu. ” batinku. ” Wah ini bacaan cowok je. Dan mulailah aku membaca dengan diterangi lampu teplok . Saya terjelepok dalam pelukan hangat tubuh semlohai itu. Saat itu jam dua siang, tapi cuaca yang mendung kelihatan seperti sudah jam enam petang. Kayaknya asyik banget.” begitu ucap Ita sambil mendekatikiu dengan membawa segelas kopi panas. bless. Tanpa sadar tangan saya mencoba mencopot CD terakhir Ita, Dia makin melenguh panjang pendek
” Hhhss, hhss, hhss. kukunci saja. biar amanlah, soalnya saya kan masih kecil, nanti kalau ada maling saya takut sehingga biar engga ada orang lain masuk .. Hujan turun makin lebat, tetapi kami berdua yang tanpa selembar benangpun tidak merasakan dingin bahkan panas membara dan bergeloraa. “Boleh dong aku ikut membaca?” tanyanya . Dia terdiam saat itu, tapi menjulurkan kepalanya ke arahku. Ita makin merintih, ketika puncak bukit




















