Mbak Mira membuka mata, kemudian bangun dari
sandarannya dan mendekatkan kepalanya padaku.“Gimana, Mbaknya mau di-embat juga?” ledeknya sambil
berbisik. Setelah itu, dilanjutkan ke bawah lagi, berhenti di
dadaku. Xnxx Dan bus pun sudah mulai masuk terminal. Akhirnya aku membuat gerakan seperti biasa,
seperti yang biasa kulakukan pada tante Ani atau Mela. Kalau BH-ku rusak, emangnya kamu mau
ganti,” lagi-lagi hidungku jadi sasaran. Kuimbangi dengan aksi serupa. Kulirik arloji menunjukkan
jam setengah 9, berarti Mbak Mira terlambat setengah jam. Rupanya dia tahu tidak mampu mengontrol diriku dan lupa pada pesannya. kenapa tadi sama aku kamu beraninya lirak-lirik
aja. Dalam perjalanan di bus, aku tak
tahan melihat Mbak Mira yang merem sambil bersandar. Digerakkannya kepalanya naik turun pelahan-lahan,
berkali-kali. Sebelah kanan-kiri, tengah jadi sasaran lidah dan bibirnya. “Hampir lupa ya?” lagi-lagi hidungku jadi sasarannya waktu
Mbak Mira mengucapkan kata-kata itu.Selama di bus dalam perjalanan pulang aku memejamkan mata
sambil mengingat-ingat pengalaman yang baru saja ku dapat dari Mbak Mira.




















