Permainan berakhir.Tapi aku masih mematung di depan kamarnya, memperhatikan Erik dari sebelah pintu yang sedikit terbuka. Ballroom hotel itu sangat indah, Erik mempersiapkannya secara spesial. Bokep Montok Erik pun menghela napas dan beristirahat sejenak, masih dalam rangkulan wanita itu. Dia selalu membelikan baju-baju indah dan boneka porselain untuk dipajang dikamar tidurku. Aku tidak percaya bahwa aku menyaksikan itu semua. Tersenyum Erik mengecup kepalaku sambil mengelusnya. Dia pun menahan tanganku yang terikat dan mendekatkan bibirnya ke bibirku. “Ahh..!!” nafasku makin memburu.Tiba-tiba Erik berhenti dan melihatku sambil tersenyum misterius. “Hmm..kamu menyukainya bukan? Yang paling menyedihkan adalah, aku sama sekali tidak pernah dikenalkan ataupun berjumpa dengan kerabat ayah maupun ibu. Tidak lamapun, aku merasa kalau aku telah menemukan rumah baru bagiku. Tapi Erik menahanku dengan kuat. Maria” Erik melemparkan senyum yang berbeda dari kemarin.




















