No info
Ia malah melengos. Bokep Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Aku tersenyum. Bibirku melumat bibirnya.“Jangan di sini Sayang..!” katanya manja lalu melepaskan sergapanku.“Masih sepi ini..!” kataku makin berani.Kemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi. Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan. Tunggu apa lagi. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas.Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja. Aku bisa dapatkan ia, wanita setengah baya yang meleleh keringatnya di angkot karena kepanasan. Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Membuatku tidak berani. Ke bawah lagi: Turun. Aku masih mematung. Sudah tiga tahun, benda ini tak kurasakan Sayang. Yes.., akhirnya. Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Aku tiduran sambil baca majalah yang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu. Sial. Ke bawah lagi: Tidak. Semua orang bebas masuk asal punya uang. Jangan di sini..!” katanya.Kini ia tidak malu-malu lagi menyelinapkan jemarinya ke dalam celana dalamku.





















