Kami berdua sudah mabuk kepayang, keenakan oleh sensasi nikmat terlarang. Dengan ekspresi kaget dan shock aku menoleh dan memandang mbak nila secara serta merta. Bokep Belom makan ya? Apalagi lokasinya berada di daerah cawang yang masih bisa dalam jarak tempuh kendaraan umum (meskipun alhamdulillah tak berselang beberapa bulan aku dapat mengkredit motor hingga tak lagi harus berjubel di transjakarta)Kisah ini bermula ketika ada seorang penghuni baru yang pindah ke seberang kamarku. Saya nila..”Ia kemudian mengulurkan tangannya ramah sambil tersenyum manis.“Doni..” Ujarku pelan sambil menjabat ringan tangannya.Jujur aku jadi agak salah tingkah dan kikuk.Mungkin karena jarang aku bisa berkenalan langsung dengan penghuni kosanku. Sakit.” Tolakku.Namun percuma saja, karena apabila mbak nila sudah memberi komando, tak ada apapun yang bisa menghalanginya.Dan benar saja, tak lama mbak nila masuk kembali kekamarku membawa minyak pijat berwarna bening diatas mangkok kecil beserta botol botolnya.“Mana sini punggungnya, cepetan duduk.”“Ah nggamau ah mbak, aku gasuka bau minyak angin.”“Ini minyak




















