Tapi kini? Ayu terkapar dengan nafas naik turun. Bokep Kang Didi-nya sudah pulang, Teh?
Belum
Enggak, ah. Walau berat rasanya, aku pun beranjak dari dalam kamar. Lalu kubuka dan kutuangkan sebagian isinya pada sebuah gelas. Ayu ternyata begitu mahir menggoyangkan pinggulnya. Walau hanya dengan isarat, aku pun bisa mengerti. Bener? Aku mau meyakinkannya. Tapi bukan mencari kunci atau membeli rokok. Kuhampiri Nia, sekaligus pula kupeluk tubuhnya. Sampai aku pun tak sadar, kalau tetangga kontrakanku sedang memperhatikan di depan pintunya. Dia adalah Teh Ana. Aku tak berani menggodanya. Kuletakan botol bir di atas meja. Wiwi tak ada, dan aku ingin sekali melakukannya. Kalau diibaratkan buah, Nia itu masih terlihat segar, dan akan begitu enaknya bila dimakan. Dia begitu cantik dan menawan. Semakin PD saja. Namun walau bagaimanapun, aku tak mungkin bisa menghentikannya.




















