Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Bokep Junior berdenyut-denyut. Auhh aku mau keluar ah.., Yang tolloong..!” dia mendesah keras.Lalu ia bangkit dan pergi secepatnya.“Yang.., cepat-cepat berkemas. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Ke bawah: Tidak. Ke bawah: Tidak. Wajahku mulai panas. Wajahku merah padam. Shit! Ia masih dingin tanpa ekspresi. Ah masa bodo. Ia berlutut mengelap paha bagian belakang. Sekarang sudah lebih lancar. Paling tidak aku dapat melihat leher yang basah keringat karena kepayahan memijat. Ya sekarang..!” pintanya penuh manja.Tetapi mendadak bunyi telepon di ruang depan berdering. Aku pun segan memulai cerita. Tetapi, aku harus berani. Ya tidak apa-apa, hitung-hitung olahraga. Nafasnya tercium hidungku. Langkahku semangat lagi. Aku lupa kelamaan menghitung kancing. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Mendadak jari tanganku dingin semua. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya.




















