Ayo..!Aku masih diam saja. Bokeb Duduk di tepi dipan. Tapi masih terhalang kain celana. Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku. Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh.Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Kini ia pindah ke paha, agak berani ia masuk sedikit ke selangkangan. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuil tempat duduk.“Terima kasih,” ujarnya ringan.Aku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkan lagi, sehingga tidak perlu curi-curi pandang melirik lehernya, dadanya yang terbuka cukup lebar sehingga terlihat garis bukitnya.“Saya juga tidak suka angin kencang-kencang. Ah.., selangkanganku disentuh lagi, diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai.Ia berlalu ke ruangan sebelah setelah membereskan cream. Ke bawah lagi: Turun.




















