Bersakit dahulu – senangpun tak datang, malah mati kemudian. Bokeb Takut dianya marah aku pindah memijat kaki sebelahnya tanpa merubah posisi dudukku, dan kuulangi lagi mengarah ke atas. Dia diam aja. Pantes nggak merah? Hah, Mbak Maryanah itu tetangga sampingku, orangnya kalem, sopan, guru TK. Kemudian kucium mulut dan kujilati sekitar telinganya, aku tidak berani mencium lehernya karena masih ada sisa balsem, bukan terangsang yang kudapat malah kepedasan nanti.Aku tidak berani memegang rudalku, karena tangan bekas memijat tadi terkena balsem bekas kerokan yang ada di punggung istriku. Bodo ah, biarin tetangga denger, kadang seperti orang kepedesan (sshuah – shuah, padahal nggak ada cabenya), kadang seperti orang merintih kesakitan.Sudah capek dengan gerakan cepat naik-turun. Terasa “rudalku” seperti ada yang menekan, saat dia melakukan penekanan dengan rongga vagina pada “rudalku”, dia mengangkat sedikit pantatnya dan menjatuhkannya kembali, akhirnya dia nggak bergerak.“Capek aku, Pa,” katanya dengan napas ngos-ngosan. Yah siapa sih tahan “palkon” (kepala kontol,




















