Hari masih pagi. Bokep aku suka itu!” ujarku datar diikuti tawa kami berbarengan. “Yahh.. Aku menarik napas sesaat. Perlahan-lahan aku berjalan menuju kamar mandi. Aku bangkit dari tempat tidur. Sekilas kudengar nafasnya hampir-hampir mendengkur, begitu teratur dan berirama. Tangannya pun mulai mengusap-usap kedua bola zakarku, dipermainkannya lembut sambil sesekali digelitiknya dengan kuku-kuku jarinya yang panjang. Aku menggelinjang sesaat setelah air berwarna kekuningan itu terkuras habis, membuat organ tubuhku itu berangsur-angsur mengendur dan layu.Aku lalu memutar sebuah tungkai penyiram air pada kloset. Ia lalu meneruskan kata-katanya. lalu kuajak saja dia bermain-main dengan mulutku, Roy..!”
Aku masih tak menyahut. Aku berdiri di depan kloset, melepaskan urine yang sudah tak dapat kutahan. Aku terbatuk kecil. Aku berada di ambang puncak sampai beberapa detik kemudian, “Yeaahh..!” Aku memuntahkan lava putih yang mengental di dalam mulutnya. Aku mencoba untuk mengingat-ingat kembali.




















