Tangannya halus. Ia tdk melanjutkan kalimatnya.Aq tersenyum. Bokep Hitam. Nafasnya tersengal. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Pijitan turun ke perut. Aq memegang teteknya. Lalu dikocok-kocok sebentar. Pokoknya turun.“Kiri Bang..!”Aq lalu menuju salon. Aq duduk di belakang, tempat favorit. Mobil bergerak pelan, aq masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yg berkeringat di lehernya itu. suara itu lagi, suara wanita setengah baya yg kali ini karena mendung tdk lagi ada keringat di lehernya. Agar kejadian kemarin terulang. Aq memandang ke arah lain mengindari adu tatap. “Si Anis, yg tadi. Aq menyesal mengutuk ibu ketika pergi. Sudahlah. Saya bisa masuk angin” kata perempuan setenga baya di depanku pelan.Aq tersentak. Aq tdk dapat lagi memandanginya.Kantorku sudah terlewat. Ayo..!Aq masih diam saja. Ia menikmati, tangannya mengocok Penis.“Besar ya..?” ujarnya.Aq makin bersemangat, makin membara, makin terbakar. Ia menyentuhnya. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Aq menyesal mengutuk ibu ketika pergi.




















