Tak kuhiraukan lagi amplop putih yang kuletakkan di meja tadi.Sepanjang jalan kusesali ketololanku, pantas saja sejak pertama bertemu aku merasakan wajah itu tak asing lagi dan serasa begitu dekat kukenal, pantas saja aku merasakan rasa aman saat dalam dekapannya sebagaimana kulakukan dulu kalau berantem dengan Devi Om Hari justru lebih sering membelaku daripada anaknya.Bayangan masa kecil nan bahagia terpampang jelas dalam benakku, semenjak kecil bahkan hingga SMA aku dan Devi tumbuh bersama, sering aku nginap dirumahnya kalau hari libur, begitu juga dia. Xnxx Aku tak tertarik mendengar pembicaraannya tapi kudengar sayup sayup panggilan “sayang” berulang kali dan diakhiri dengan kata “I love you too”.“sorry, tadi dari anakku, Devi, biasalah gadis jaman sekarang banyak kebutuhannya” katanya seperti ingin memberi penjelasan padaku, padahal aku tak peduli apakah dia telepon sama Devi atau siapapun, anaknya atau apapun, bukan urusanku.Babak kedua kami lakukan 20 menit kemudian, kali ini posisiku diatas, dengan leluasa dia bisa menjamah seluruh




















