Kami tak pünya tempat tüjüan, dan üang simpanan kami tak seberapa. Bokep “Ada apa, Denok?”“…saya… saya…” Duh, saya nggak kuat bilangnya. Dan bahwa saya keguguran.“Duh, untung kamu masih selamat, Denok… Tapi anakmu…” Juragan bilang itu semua sambil nangis.Beliau bilang teringat istrinya, dan sudah takut saya bakal mengalami kejadian yang sama. Saya sampai nggak bisa ngomong, cuma bisa ndesah dan njerit nggak karuan.Saya berusaha minta Juragan jangan kencang-kencang, tapi beliau tidak mendengarkan. Dada saya gonjang-ganjing. “Ja… jadi sekarang tujuh puluh ribu?”Juragan juga sudah buka baju, dan hanya dengan bercelana pendek beliau naik ke ranjang, posisi merangkak di atas badan saya. “Badan kamu bagus, Denok. Saya tetap mencari penghidupan dengan menari untuk orang-orang di Pasar. Duh, edan tenan. Saya sampai setengah lari meninggalkan toko beras Juragan, langsung ke kontrakan. Air liur Juragan saya telan.“Uaahhh…” keluh saya ketika Juragan akhirnya menarik bibirnya.Sisa liur kami dari ciuman basah tadi masih nyantol seperti tali yang menyambung bibir




















