Di dalam perjalanan kami ngobrol dan sambil bersendau gurau. Bokep Tak lama setelah keberangkatan Pipit aku pindah ke Jakarta. “Dik Wahyu, itu tadi anak saya si Pipit..” kata Bu Murni. Aku duduk saja di depan rumahnya yang sejuk, karena kebetulan ada seperti dipan dari bambu dihalaman di bawah pohon jambu. Sempat Pipit bercerita bahwa keperawanannya telah hilang setahun lalu oleh tetangganya sendiri yang sekarang sudah meninggal karena demam berdarah. Sebaliknya Pipit juga demikian. Pipit masih saja memandangku tak berkedip. Nikmat sekali.. Kadang dirumahnya, saat Bu Murni kepasar, ataupun di kamarku karena memang bebas 24 jam tanpa pantauan dari sepupuku sekalipun. Ngapain sih kok mau jauh-jauh ke Malaysia, kan jauh.. Buru-buru kami melepas pelukan, merapikan baju, dan duduk seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aku masih berjuang untuk hal itu hingga detik ini.




















