“Mau apaan sih kamu?” kataku gusar. Bokep Bulik Tin hanya melambaikan tangan sambil tersenyum padaku.Sejak saat itu, ketika Bulik sudah tertidur nyenyak, aku hampir tiap malam menjalankan ‘hobi’ baruku. Perlahan-lahan aku menjulurkan lidah menyapu seluruh permukaan puting susunya Bulik. Sinta, agak tomboy, egois, malas, dan seambrek sifat jelek lainnya, sedangkan Yasmin, anaknya diam, rajin, pembawaannya halus dan tidak banyak omong.Beberapa kali aku beradu mulut dengan Sinta, dan Yasminlah yang menengahi, bahkan lebih sering membelaku daripada saudarinya. Setengah kaget aku agak terlonjak, dah alhasil manukku yang lagi ngaceng itu terbentur kaki meja (waduh rasanya ampun dah!). Dia mempraktekkan beberapa jurus-jurus judonya sekaligus berlatih denganku. Aku terpukau ketika melihat kedua susunya yang benar-benar sempurna. Yasmin merintih pelan. “Dah, cepet makan tuh, bulik belikan jangan terung (sayur terung), ama tongkol goreng kesukaanmu” perintah Bulik sambil mengambil nasi untuk dirinya.Aku juga segera duduk disebelahnya, lalu mulai mengambil nasi dan lauk-pauk, dan kami bersantap siang bersama.




















