Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon. Apa katanya nanti? Xnxx Tangannya halus. Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya.“Ya sekarang Sayang..!” katanya. Makin lama makin jelas. Kini pindah ke paha sebelah kanan. Nampak ada perubahan besar pada Wien. Kulihat di bawahku ada kain, ya seperti saputangan.“Itu kali Mbak,” kataku datar dan tanpa tekanan.Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika ia membersihkan paha bagian bawah. Tidak perlu diantar. Tidak pasang wajah perangnya.“Kayak kemarinlah..,” ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.Begitu kebetulankah ini? Aku pun segan memulai cerita. Langkahku semangat lagi. Semua orang bebas masuk asal punya uang. Tidak perlu diantar. Tapi belum tersentuh kepala juniorku. Benarkan kesempatan itu lewat. “Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Lalu pindah ke pangkal paha. Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat.




















