Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya. Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing. Bokeb ”
Semua penumpang menoleh ke arahku. Perlu tidak ya kutegur? “ Kayak kemarinlah.., ” ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya. “ Mbak Fera.., aku mau makan dulu. Ah, Aku terlambat setengah jam. Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok. Atau kean, karena dia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya. Ya, seseorang toh dapat saja lupa pada sesuatu, juga pada sapu tangan. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Aku pun segan memulai cerita. Jendela kubuka. Kaki disandarkan di dinding. Kejantananku melemah. Tetapi sejak tadi aku tidak melihat wanita yang lehernya berkeringat yang tadi mengerlingkan mata ke arahku.




















