Ini benar-benar gawat dan bencana bagiku. Xnxx mati aku,” hanya itu yang ia ucapkan pertama kali setelah tersadar dari keterkejutannya. “Nah, ini dia Mbak,” gumamku tanpa rasa bersalah, saat aku temukan gumpalan kain berikutnya, yang tentu saja mirip dengan yang terpasang di cekungan kutangnya. Biang keladinya tentu saja sinar lampu teplok yang tak seterang lampu jaman Sekarang. Saat tangan nenek yang ku coba ku geser ke arah lain yang lebih memudahkanku mengamati kemaluannya, tanganku gemetar takut kalau-kalau Nenek terbangun. Kedua tangannya mulai bergerak merangkul bahuku, dan menekan tubuh mungilku ke tubuhnya. Hanya saja yang mengundang decak kagumku adalah, di sini kutemui bulu-bulu seperti rambut yang sebagian besar berwarna putih seperti uban, tetapi cuma satu sisi yang tersisa. Lega tak terperi yang aku rasakan, sesaat setelah buang hajat kecil, begitulah perasaan yang ada padaku, ketika mampu menelanjangi Nenek, orang yang jikalau dalam posisi sadar amat kusegani dan kuhormati.




















