Aku segera bangkit mengangkat telepon yang terletak di atas sebuah meja rias di sudut ruangan. Dasar nenek sinting, bathinku. Bokep Ia menceritakan hari-harinya di kantor siang itu, mengutarakan rencananya nanti malam, dan menceritakan aktivitas tambahan yang dilakukannya tadi pagi. Hari masih pagi. Kulihat Linda masih tak bergerak. Aku mengatur nafasku satu-satu, sedikit terengah merasakan bibir-bibir itu melumat-lumat sekujur batang kejantananku yang menjadi keras dan semakin mengeras. Kulihat sebelahku telah kosong. Aku mencoba untuk mengingat-ingat kembali. Aku menarik napas sesaat. Pikiranku menjadi kacau. Kiranya Linda telah pergi ke kantornya. Aku terbatuk kecil. Ia lalu meneruskan kata-katanya. Kepalaku terasa sedikit pening. Sejenak kuperhatikan bayanganku yang terpantul jelas pada cermin lebar yang terletak persis di hadapanku. “Oufh..!” Aku menghela napas sesaat. Aku segera bangkit mengangkat telepon yang terletak di atas sebuah meja rias di sudut ruangan. Aku menarik napas sesaat. Ia melanjutkan kata-katanya dengan suara berat. Anehnya, pengunjung bar yang lain tampak sama sekali tak




















