Mungkin keduanya sudah menjadi sepasang kekasih kalau saja hal itu tidak terjadi…Hari itu sore jam limaan, Imron melewati sebuah koridor dan menemukan ruang dekan fakultas sastra masih menyala. Posisinya kini terduduk di tepi ranjang dan dikerubuti tiga pria itu. Bokep supaya biasa nantinya !” perintah Imron dari belakang. “Aakkhh…aaaahhh !” jerit Ivana mengakhiri keperawanannya dengan tubuh makin mengejang.“Pheeww…masuk juga akhirnya, asoy banget memek perawan nih !” kata Pak Kahar sambil menghembuskan nafas panjang. Pak Mamad sendiri tidak banyak tingkah seperti dua orang itu, dia cuma memegangi payudara Ivana saja sambil sesekali memberi pengarahan. Kembali Ivana memicu tubuhnya naik-turun di atas pangkuan Imron. Pak Kahar mengeluarkan benda itu dari tasnya, yang menghubungi adalah ayahnya, Pak Heryawan. “Lho, saya kan cuma mau menyuarakan kebenaran aja Non, ini kan jaman reformasi, yang busuk ga boleh ditutup-tutupi lagi dong Non, kecuali…” Imron tidak meneruskan kata-katanya. Sampai di rumah dia sekuat tenaga bersikap wajar seolah tidak terjadi




















