ahhhh… tonnhh…” serunya dibarengi aliran hangat yang langsung membanjiri lembah merah muda itu.“Sekarang waktunya Nin.”Aku mengambil posisi duduk di antara belahan kedua kakinya. Sepanjang perjalanan wajahnya pucat dan sesekali memandangiku, seolah minta dikasihani.“Jangan mencoba membuat gerakan macam-macam… atau kamu kulempar ke jalan… mengerti?” ancamku lagi sambil berganti posisi.Aku mengambil alih kemudi. Bokep aku.. “tonhh… bajingann.. Nin..” Aku segera beranjak pergi.Empat hari kemudian aku memang secara diam-diam mendatangi daerah rumahnya. Segera kujilati lagi untuk kesekian kalinya. Lucu sekali. Terserahlah, apakah dia marah atau bagaimana. Nin… aku tak tahu apa yang kamu inginkan. Lucu sekali. Aku menunduk dan menjilati kemaluannya. “Sshhh… terrusshh…”Perlahan lahan, cairan yang kunanti keluar juga. “Sshhh… terrusshh…”Perlahan lahan, cairan yang kunanti keluar juga. nanti ngebanguninnya susah”, katanya polos.Di kala otakku sudah kesetanan, tiba-tiba…“Jangan berisik atau pisau ini akan merobek lehermu”, ancamku seraya menempelkan pisau lipat yang biasa kubawa. shhh… oghh”,Aku tak peduli lagi umpatannya.




















