Kubawa ia melewati jalan belakang agar tak ada yang tahu, lalu melewati dapur dan lift karyawan. Bokep Kini tubuhnya lemas lunglai, kakinya lemas dan tangannya sudah tidak memukul-mukuliku. “Sakit gak?” tanyanya. Tangan kiriku memegang piggulnya, sementara tangan kananku menyentuh pahanya, lalu aku memutar tubuh Rini, kedua mata kami bertemu. Meskipun tidak menengok ke belakang, aku tahu Rini mondar-mandir kebingungan.“Mau kubantuin gak?” ujar Rini, inilah yang kutunggu-tunggu. Aku orang pertama yang disidang di fakultas, sementara teman-temanku menunggu akan hari-“H”nya, aku sudah bersantai-santai. “Aaaww,” teriaknya kesakitan. “Rini? “Iya benar,” jawabnya sambil berdiri, ia berdiri membelakangiku, lalu menoleh dan berkata,”aku ini masih perawan.” Aku memandanginya dengan senyuman. “Kamu gak papa?” tanyaku sekali lagi. Aku mengakngkat tangan dan bahu kiri-kanannya, sekarang bajunya hanya menutupi pusarnya. Aku melepaskan ciuman lalu mulai bergerak lagi perlahan-lahan, Rini hampir berteriak lagi, namun aku menyumbat mulutnya dengan celana dalamnya yang kuambil tadi.




















