Ke bawah lagi: Tdk. Bokep Ya nggak apaapa, katanya menjawab telepon. Aq tdk dapat lagi memandanginya.Kantorku sudah terlewat. Tapi tdk apaapa toh tipuan ini membimbingku ke alam lain.Dulu aq paling anti masuk salon. Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aq. Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku. Ke bawah lagi: Turun. Alamak.., jauhnya. Ah.., selangkanganku disentuh lagi, diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai.Ia berlalu ke ruangan sebelah setelah membereskan cream. Satu dua, satu dua. Sial. Tetapi eh.., diamdiam ia mencuri pandang ke arah penisku. Aq harus, harus, harus..! Pokoknya turun.Kiri Bang..!Aq lalu menuju salon. Aq mengurungkan niatku. Lama sekali ia memijati pangkal pahaku. Aq meringis merasai sentuhan kulit jarinya. Ayo. Ah masa bodo. Dadaku berguncang. Terganggu wanita muda yg di ruang sebelah yg kadangkadang tanpa tujuan jelas bolakbalik ke ruang pijat.Dari jarak yg begitu dekat ini, aq jelas melihat wajahnya.




















