Aku gemetar. Asap bus benar-benar menyesakkan. Bokep Uh, begitu romantis. Aku meremas, memilin, mengelus tanpa henti. Mei, calon istriku, kemudian menyusul ke Jakarta dan bekerja di sebuah bank di Bintaro. Aku terus menggerakkan jariku. Telaten sekali dia. Jari tengahku kemudian mengelus lipatan basah itu. Hidup serasa jalan tol, tanpa rintangan, mulus tanpa gejolak, penuh aturan. SEkarang aku sedikit meremasnya. Aku turuti. Semua orang tampaknya sudah terlelap. Kemudian memandang ke arah dia. Di dalam mulut seorang ibu. Dapat.Jelas, ini sutra. Aku sengaja mencari tempat duduk persis di bawah AC. Tangan ibu itu masih mengelus pahaku. Aku jengkel banget.Hujan mulai turun. Tak apa. Payudaranya besar. Kali ini, dua kancing tepat di depan dada besar itu aku buka. Aku terkejut.Ternyata itu bukan kaki anak kecil. Wooa, sensasinya benar-benar luar biasa. dia berjalan melangkah dari depan. Semakin cepat. Tiga kali. Mengulumnya lagi. Hawa dingin AC menyergap. Bakalan lama nih. Eee, kurang ajar. Baru kusadari sekarang.




















